Saya
memilih rumah durian sebagai tujuan wisata kuliner di hari minggu kemarin,
hanya karena Saya sering lewat jalan situ dan terpikir untuk kapan-kapan menyambangi
tempat tersebutlah Saya memilihnya sebagai suatu tempat tujuan wisata kuliner
itu.
Hari Minggu itu
saya bersama tiga orang teman berniat melakukan wisata kuliner di tiga tempat
sekaligus dan Saya kebagian yang terakhir karena tujuan Saya adalah Rumah Durian
Harum yang bisa dikatakan sebagai pencuci mulut atau dalam istilah kuliner
internasional disebut sebagai dessert. Dua tempat kuliner sebelum saya memang tergolong
makanan berat terlebih tujuan wisata kuliner yang pertama yang tak jauh dari nasi
dan lauk pauknya. Tujuan yang kedua setengah makan berat yaitu “bermain” di
kelas roti, pancake dan kopi-kopi semacamnya. Dan sebagai tujuan akhir yaitu
tempat yang berperan sebagi dessert pilihan Saya adalah Rumah Durian Harum di
jalan Pos Pengumben Jakarta barat.
Berangkat dari
tempat wisata kuliner kedua menuju ke tempat tujuan Saya sangat beruntung,
karena hujan yang seharian mengguyur Ibukota sudah reda. Sekitar pukul 17:30an
kami bertiga melakukan sholat magrib terlebih dahulu dan setelah itu barulah
menuju ke Rumah Durian yang sudah sangat tidak sabar ingin Saya sambangi itu.
Rumah Durian Harum
berada di Simpang Empat Pos Pengumben, lebih tepatnya Jl. Raya Panjang No. 29
Jakarta Barat. Telepon 021-53651249. Buka setiap hari dari pukul 10:00-22:00. Dan
terdapat pula beberapa cabang lain di Jakarta seperti kalimalang dan Matraman
(Jakarta Timur). Dari luar, Rumah Durian ini menurut Saya biasa saja, tak ada
konsep restaurant yang menggunakan banyak tema durian, hanya sederet replica durian
yang di pajang di dinding atau lemari kaca yang terlihat dari luar dan ada dua
patung replica durian di pintu masuknya. Dari parkiran motor Saya dan
teman-teman udah di sambut dengan aroma menyengat yang khas dikeluarkan buah
yang satu ini yaitu durian.
Begitu melangkahkan
kaki ke pintu masuk aroma tersebut saling berkejaran menusuk rongga hidung dan
semakin membuat Saya tak sabar ingin cepat-cepat makan duriannya. Kamipun masuk
dan didepan ada dua rak besar yang berisi durian local dan import. Didalam, ada
dua ruangan yang bisa kita pilih, yaitu untuk sebelah kanan ruanganya terlihat
lebih khusus hanya untuk menikmatin durian saja tanpa disandingkan dengan
kedai-kedai makanan lain bukan durian. Sementara di sebelah kiri, ruanganya kelihatan
lebih rapi dibanding dengan yang sebelah kanan, ruang kanan tidak terdapat
pendingin ruangan sedangkan yang kiri menggunakan pendingin ruangan serta
berdampingan dengan kedai-kedai makanan ringan selain durian.
Disana Saya memilih durian import, karena Saya pikir
durian local sudah sering Saya makan saat musim durian dikampung yang Saya
tidak hapal bulan apa musim durian itu. Cukup mahal memang bagi Saya yang masih
semester lima kuliah ini untuk membeli durian tersebut, namun karena Saya
berpikir ini jarang malah hampir tidak pernah Saya datang lagi ke tempat ini
akhirnya Saya beli juga.
Durian
atau (durio zibethinus) nama
ilmiahnya, adalah buah yang mempunyai aroma yang sangat kuat dan berbentuk
bulat berduri tajam, memiliki tekstur
lembut, manis,pahit dan sedikit lembek pada tiap bijinya. Saya sebenarnya bukan
penggila durian tetapi Saya selalu tak akan menolak jika di beri kesempatan
mengunyah buah yang satu ini. Di Rumah Durian tersebut Durian yang Saya pilih
adalah durian Chanee(kane) besar yang berbobot empat kilograman lebih dengan
harga per kilogramnya adalah Rp 49.500,-. Sebelum Saya memastikan untuk membeli,
pelayan atau karyawan disitu menyarankan atau mempersilahkan kepada pengunjung
untuk mencobanya terlebih dahulu. Jika tak cocok rasanya, pembeli pun di
persilahkan memilih durian yang lainya. Sedikit di belah durian yang Saya pilih
dan sendok semacam sendok es krim dari kayu di sodok kedalam belahan kecil
durian tersebut kemudian di tarik dengan
sedikit membawa bongkahan kecil durian chanee tersebut. “Mmm.. manis mas,” saya
tegaskan demikian, tak berapa lama pelayan pun membelahnya sesaat setelah Saya
duduk dimeja yang dekat replica durian-durian yang berada di lemari kaca
tersebut. Pesanan pun datang dengan sebutir durian yang telah terbelah bagi
Saya sangat besar dengan di wadahi nampan besar.
Kami bertiga pun
langsung menyantapnya, legit. Dagingnya tebal dengan biji yang sangat kecil sebesar
biji nangka cempedak.
Puket istilah
untuk menggambarkan rasa buah buah durian yang legit, lembut, sekaligus pahit
rasa alcohol dengan komposisi yang pas. Ini
dapat ditemukan pada durian medan yang dirak besar satunya (durian local).
Di Rumah Durian
Harum, kita bisa menemukan durian chanee (kane) dengan kondisi baik dengan rasa
yang sesuai harapan, puket. Hanya memang, harganya menjadi Saya harus berpikir
jika ingin setiap pekan datang dan membeli durian tersebut yaitu tadi Rp 49.500,-/kg.
Namun, karena durian yang di sajikan bersih dari busuk satu durian pun cukup
memuaskan.
Setiap hari toko
ini menyediakan durian medan. Sementara untuk durian dari Thailand dan Malaysia
biasanya di sediakan setiap musimnya, yang di mulai pada bulan Maret hingga
Juli. Dan Saya kebagian durian chanee Thailand di bulan April ini. Untuk harga
durian di toko ini mulai dari Rp 35.000- Rp 80.000,-. Yang paling banyak
diminati adalah montong dan durian medan.
Jika ingin
mencoba durian yang lebih istimewa, menurut Hendrik, pelayan di Rumah durian
ini, adalah durian bhineka bawor asal kota Banyumas, Jawa Tengah. Durian ini
merupakan hasil kombinasi sejumlah jenis durian Thailand dan local. Hasilnya adalah
durian yang berdaging tebal seperti monthong dengan warna kuning yang pekat seperti
durian chanee, tetapi memiliki rasa seperti durian local meski tak sekuat
durian medan. “karena belum begitu terkenal, kami masih menjualnya dengan
sebutan monthong sebagai durian tersebut,” kata Hendrik.
Tidak hanya
durian asli, pengunjung juga dapat memanjakan lidahnya kaum penikmat durian
dengan berbagai penganan olahan dari buah durian. Sebut saja keripik durian,
dodol durian, lempok, serabi durian,es krim, es cendol durian serta ketan kolak
durian yang biasa di sebut juga kinca. Rumah Durian Harum juga menjual makanan
ringan yang tidak berbahan dasar dari durian diantaranya somay bandung. Untuk harga
produk penganan olahan tersebut berkisar antara Rp10.000-50.000,- saja, untuk
es krim ukuran 120ml Rp10.000,- ,220ml Rp 18.000,-, 750ml Rp 45.000,-.
Untuk produk
olahan berbahan dasar dari durian, yang menarik bagi Saya adalah ketan kolak
durian. Di beberapa daerah, orang mengenalnya dengan nama “kinca”. ”Nasi ketan
putih disiram dengan kuah santan yang manis dan hangat serta di beri sebiji
durian asli yang dingin,”kata Hendrik. Seporsi kinca bisa Anda tebus dengan
harga Rp20.000an saja, cukup lah bagi Anda yang durianholic.
Satu lagi serabi
durian, harganya Rp 15.000,-/ 2 buah. Untuk rasanya biasa saja. Setangkup serabi
Bandung dengan kuah gula merah dan sari durian asli, bagi yang ingin mencobanya
silahkan beli. Bila Anda tak menyukainya tak ada salahnya membeli untuk
kemudian di bawa pulang sebagai oleh-oleh bagi keluarga di rumah.
Setelah berbutir-butir
biji durian yang berdaging lembut itu berhasil bermigrasi dari nampan besar ke
mulut dan kemudian nyaman bersarang di perut kami bertiga. Rasanya bagaikan
baru saja melakukan dosa kecil yang manis. Harganya memang sangat mahal, tapi
setimpal dengan rasanya. Hmmm. Silahkan untuk mencobanya sendiri supaya tahu
apa yang Saya dan teman Saya rasakan saat ada waktu mampir kesini.
Mitos atau
temuan orang yang mengatakan bahwa seseorang telah makan buah durian di
anjurkan untuk minum air yang di tuang di kelopak cangkang bekas buah durian
sebagai ganti gelas air minumnya, ini dilakukan karena ada sebagian orang yang
saking tak bisa menahan nafsunya pada buah ini mereka menyantapnya berlebihan
dan menimbulkan sakit kepala, panas dalam atau mual, nah untuk mengatasi hal
itu lakukan ritual tadi yaitu mengganti gelas air minum Anda dengan cangkang
bekas buah durian t ersebut sebagai wadah air minumnya. Seperti gambar Saya di
bawah ini:
Minum air putih dengan wadah kulit durian



good job kawan ^__^
ReplyDelete